Beda Obat Generik dan Obat Paten

img
Jakarta, Saat ini masyarakat dianjurkan untuk mengonsumsi obat generik. Tapi sebenarnya apa yang membedakan antara obat generik dengan obat paten?

Coba hitung berapa banyak merek obat parasetamol yang tersedia di toko obat. Bermacam tablet berbagai bentuk, ukuran, warna dserta bahan-bahan berbeda seperti bahan pengisi dan pengikat. Tapi semuanya mengandung bahan aktif yang sama yaitu parasetamol.

Obat generik memiliki image sebagai obat murah dan kurang berkualitas dibanding obat pemimpin merek, padahal kandungan bahan aktifnya sama. Jadi obat generik tidaklah jauh berbeda dengan obat bermerek yang lebih populer, seperti dikutip dari the Conversation, Selasa (6/9/2011).

Sejatinya, apakah obat generik itu?

Ketika senyawa kimia baru ditemukan, sebuah perusahaan farmasi akan melindungi kekayaan intelektualnya dengan hak paten yang umumnya berlaku untuk 20 tahun. Hak paten ini berlaku sejak obat ini diluncurkan ke pasar dan dapat digunakan oleh manusia.

Proses paten ini akan memakan waktu 10 sampai 15 tahun dan memungkinkan satu-satunya perusahaan pemilik paten memiliki hak ekskulusif dengan meraup beberapa keuntungan penjualan.

Ketika muncul di pasaran, obat baru ini disebut obat pemimpin merek atau di Indonesia akrab disebut dengan obat paten. Ketika hak paten terhadap senyawa kimia baru tersebut berakhir, maka perusahaan lain bebas untuk memasarkan salinan kimiawi yang identik dengan obat paten. Salinan obat ini disebut obat generik.

Mengapa ada berbagai macam obet generik?

Ada tiga jenis utama obat generik. Pertama, "klon" pseudo-generik atau obat yang identik dalam semua aspek obat paten selain nama dan rincian identifikasi pada label produk. Dalam banyak kasus, obat pseudo-generik ini diproduksi oleh dari pabrik yang sama yang memproduksi obat paten.

Tipe kedua adalah generik berlisensi. Produk-produk ini dibuat dengan formulasi yang sama seperti obat paten, tapi dibuat oleh perusahaan lain. Pada intinya, perusahaan ini telah membeli resep untuk membuat ulang obat tersebut.

Jenis terakhir adalah generik "sebenarnya", yaitu perusahaan manufaktur merumuskan sendiri resep obat yang mengandung bahan aktif.

Obat generik jenis klon dan yang berlisensi generik pada dasarnya identik dengan produk asli dan mengandung bahan aktif yang sama dengan obat paten beserta semua bahan lainnya seperti pengisi, zat pewarna dan pelumas. Obat generik jenis sebenarnya hanya mengandung bahan kimia aktif, sedangkan bahan tambahan lainnya mungkin berbeda.

Mengapa obat generik lebih murah?

Obat generik umumnya tersedia dengan biaya yang jauh lebih rendah karena perusahaan pembuat tidak harus menghabiskan sejumlah besar uang dalam penemuan awal dan proses pembangunan obat.

Tapi tidak semua obat generik tersedia. Biasanya, ketersediaan obat generik dapat diperkirakan dengan mengukur jumlah obat generik yang dipasarkan ketika paten suatu obat berakhir. Ketika obat penurun kolesterol yang populer, simvastatin, habis masa patennya, maka sepuluh obat generiknya segera muncul di pasaran.

Apakah obat generik aman?

Untuk bisa terdaftar secara resmi, obat generik harus menunjukkan efek setara dengan obat paten yang sudah terdaftar. Produsen harus menunjukkan bahwa bahan aktif yang terkandung dalam obat berada dalam kisaran 80% sampai 120% dari yang terkandung dalam obat paten. Prosedur ini sesuai dengan berbagai kebutuhan obat pasien dan menjamin bahwa terdapat cukup bahan aktif dalam pengobatan untuk memberikan efek terapeutik.

Kapan obat generik menyebabkan masalah?

Dengan berbagai bahan aktif yang bervariasi antara 80% dan 120% dari obat paten, penting untuk berhati-hati bila bertukar merek obat. Karena perubahan kecil jumlah obat yang ada dalam aliran darah secara signifikan dapat mengubah efek pada pasien, terutama untuk obat yang efeknya keras seperti warfarin (obat pengencer darah), digoksin (untuk jantung), carbamazepine (untuk epilepsi) dan fentanyl (untuk nyeri).

Jika Anda telah menggunakan suatu merek obat tertentu untuk jangka panjang, jumlah bahan aktif dalam darah Anda menjadi stabil dan bermanfaat untuk pengobatan.

Tapi jika kemudian beralih ke merek lain yang jumlah bahan aktifnya berbeda, bahkan sejumlah kecil perubahan bahan aktif bisa mengubah efek pengobatan pada tubuh. Dokter atau apoteker mungkin menyarankan Anda untuk tetap menggunakan merek obat yang sama.



Sumber: Putro Agus Harnowo - detikHealth

0 komentar:

Post a Comment

´