Daftar di PayPal, lalu mulai terima pembayaran menggunakan kartu kredit secara instan.

Antibiotic Policies


Download Ebook secara lengkap dibawah ini


Bacterial resistance to antibiotics and the critical need to curtail this global public health problem have reached wide awareness among healthcare providers, hospital administrators, public health officials, and even the public. The professional and lay literature continues to report the consequence of antibiotic misuse and the rise in strains resistant to antibiotics. When trying to understand drug resistance and develop ways to control the mounting public health problem, there are many factors to consider, which have both health and ecologic considerations. This book addresses that challenge.
The major thrust of the authors is to define the problem and offer global and multidisciplinary approaches to resolve it as drug resistance confronts individuals, hospitals and communities. What do we need to know to help clinicians and public health officials correct the situation? What theories should be entertained and what policies and practice can be engaged to produce a change? These are some of the questions asked and discussed from a variety of viewpoints. Using theory, an understanding of practice, and the factors involved in creating and perpetuating the problem, the authors suggest policies and guidelines which target reversing drug resistance. Antibiotic use, both in terms of quantity and length of application, is the major contributor to the selection and propagation of resistant strains. While some antibiotic resistance may emerge with each treatment, the steady rise in resistance frequency in an environment generally implies prolonged use and/or use at a concentration which is too low to effect cure, but high enough to encourage growth of resistant strains. Besides antibiotic use, other factors, including epidemiology, gene transfer, and even other drugs, influence the resistance phenomenon

BPOM :Izin Edar dan Tertib Pengawasan

Berikut merupakan beberapa Surat Edaran dari Badan Pengawas Obat dan Makanan:

Pharmaceutical Care Untuk Pasien Penyakit Jantung Koroner


Download sekarang juga ebook Pharmaceutical Care Untuk Pasien Penyakit Jantung Koroner

Penyakit Jantung Koroner (PJK) atau penyakit kardiovaskular merupakan salah satu penyebab kematian di negara maju dan berkembang termasuk Indonesia. Sindrom Koroner Akut (SKA) merupakan Penyakit Jantung Koroner yang progresif dan pada perjalanan penyakitnya sering mengalami perubahan secara tiba-tiba dari keadaan tidak stabil atau akut. Paradigma pengobatan atau strategi terapi medis penderita SKA berubah dan mengalami kemajuan pesat dengan adanya hasil penelitian mengenai patogenesis SKA dan petunjuk penatalaksanaan baru. Kemajuan pesat dalam terapi medis tersebut mencakup terapi untuk mengendalikan faktor risiko, jenis obat trombotik, gagal jantung dan aritmia. Kemajuan terapi medis tersebut harus
diimbangi dengan peningkatan kemampuan apoteker dalam pelayanan pasien SKA.
Dengan adanya buku saku “Pharmaceutical Care Untuk Pasien Penyakit Jantung Koroner : Fokus Sindrom Koroner Akut” ini diharapkan agar apoteker yang bekerja di sarana pelayanan kefarmasian (rumah sakit dan apotek) dapat memberikan kontribusi dalam rangka meningkatkan kualitas pelayanan kefarmasian sehingga tercapai penggunaan obat yang rasional.
Sumber : Dinas kesehatan

Penggunaan Obat Off-Label Pada Pasien Anak

Tujuan pemberian izin edar adalah untuk menjamin bahwa obat telah diuji keamanan, efikasi dan kualitasnya. Obat yang beredar ditujukan untuk orang dewasa memiliki izin yang menjelaskan indikasi khusus, dosis dan rute pemberian obat, atau disebut ‘on-label). Namun demikian, beberapa obat yang digunakan untuk anak tidak memiliki izin penggunaan pada anak atau penggunaan diluar ketentuan izin yang diberikan untuk obat, atau disebut ‘off-label’ .Ini berarti resiko serta manfaat (riskbenefit) penggunaan suatu obat pada situasi .
diatas belum diuji. Tenaga professional pelayanan kesehatan yang bekerja pada neonatologi dan penderita anak sering menghadapi dilemma tentang hal ini.
Dokter mungkin tidak merasa nyaman menggunakan obat dengan ‘off-label’, atau dokter menggunakan obat lama yang diketahui memiliki banyak efek samping, dengan demikian anak tidak mendapat pengobatan yang baik, atau anak tidak mendapat obat sama sekali. Telaahan ini membahas operasi dari sistem pemberian lisensi dan penggunaan obat yang tidak diberi izin dan ‘off-label, pada anak
Perizinan produk obat Ketentuan yang berlaku bahwa semua obat yang beredar harus memiliki izin untuk diedarkan (Product License = PL) atau izin penjualan ('marketing authorisation = MA), yang dikeluarkan oleh Badan POM. Seperti telah dijelaskan diatas sistem perizinan dirancang untuk menjamin bahwa obat telah diuji terhadap efikasi, keamanan dan kualitasnya. Perusahaan farmasi mengajukan permintaan izin edar obat dan dalam pengajuan dijelaskan indikasi, dosis, cara pemberian dan kelompok usia pasien yang akan menggunakan obat tersebut. Didalam permintaan izin, informasi mengenai penggunaan pada pasien anak mungkin terbatas atau sama sekali belum ada. Tidak jelas di dalam lembar data ada pernyataan seperti ”kontraindikasi pada anak” atau “tidak cukup data untuk direkomendasikan penggunaannya pada anak..


Rahasia Bisnis

Kategori:Buku-buku
JenisAgama & Kepercayaan
Penulis:Prof. Laode Kamaluddin, Ph.D
Memang Muhammad saw adalah tokoh paling berpengaruh sepanjang masa...
Buku ini mengupas tentang bagaiman Rasulullah menjalankan bisnisnya sehingga bisa menjadi pengusaha yang handal. Setiap bab dari buku ini membahas satu karakter/etika bisnis yang dijalankan oleh sang suri teladan itu. Etika yang paling utama adalah kejujuran, yang mana jaman sekarang sangat amat jarang kita temui dilaksanakan oleh para pedagang. Ada gak ya penjual yang dengan bilang : "modal saya tuh segini, terserah bapak mau ngasih keuntungan saya berapa" waaah, kalo udah kayak gitu pembeli juga ikhlas, rela, dan pasti gak pernah merasa ketipu


Sesungguhnya telah ada pada [diri] Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu [yaitu] bagi orang yang mengharap [rahmat] Allah dan [kedatangan] hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.

(Al-Ahzab: 21)

Sebagai seorang muslim, sudah sepatutnyalah kita menjadikan Rasulullah sebagai sebuah suri tauladan, uswatun hasanah dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan bisa dikatakan bahwa ini adalah sebuah perintah dari Allah SWT. Setiap orang yang merasa dirinya muslim pasti sadar akan hal ini. Namun, masih banyak yang mengartikan “menjadikan Rasulullah sebagai Uswatun Hasanah” dalam arti sempit. Perintah dalam ayat di atas untuk menjadikan Rasulullah sebagai suri tauladan tidak dibatasi oleh apapun. Artinya, kita disuruh untuk menjadikan Rasulullah sebagai suri tauladan dalam berbagai bidang.

Rasulullah SAW hidup di dunia ini selama 63 tahun. Beliau diangkat sebagai Rasul sejak usia 40 tahun. Berarti kehidupan beliau sebagai seorang Rasul hanya sekitar 23 tahun dari keseluruhan 63 tahun usia beliau. Kebanyakan dari kita menyoroti kehidupan Rasulullah setelah beliau diangkat menjadi Rasul. Padahal, seperti yang saya katakan di atas bahwa, perintah untuk menjadikan Rasulullah sebagai suri tauladan tidak dibatasi oleh apapun. Bukankah kemuliaan ahlak Rasulullah SAW sudah diakui oleh kaumnya jauh sebelum beliau diangkat sebagai Rasul, sehingga kaumnya menjuluki beliau sebagai Al-Amin (yang terpercaya)?

Buku “Rahasia Bisnis Rasulullah” yang ditulis oleh Prof. Laode Kamaluddin Ph.D ini mencoba menyoroti kehidupan Rasulullah sebagai seorang businessman. Sebelum diangkat menjadi Rasul, beliau adalah seorang pebisnis, pedagang yang ulung. Beliau mampu menbangun jaringan perdagangan yang selalu untung dan tidak pernah rugi. Sehingga menjadi magnet bagi para jutawan dan konglomerat di Arab waktu itu untuk menginvestasikan hartanya kepada beliau. Mereka tidak takut kalau mereka akan dikhianati oleh beliau, karena beliau terkenal sebagai Al-Amin (orang yang terpercaya).

Kemampuan Rasulullah dalam berdagang pun menarik hati wanita terkaya pada zaman itu, yaitu Khadijah. Tercatat dalam sejarah bahwa Rasulullah melaksanakan 4 kali expedisi dagang untuk Khadijah. Dalam usianya yang masih muda Rasulullah telah menjadi seorang entrepreneur yang kaya pada masa beliau. Tertarik oleh kepribadian dan kepiawaian beliau, Khadijah pun melamar beliau. Pada usia 25 tahun beliau pun menikah dengan khadijah. Sebagai mas kawinnya, tercatat dalam sejarah bahwa Rasulullah memberikan 100 ekor unta kepada khadijah, tapi dalam sebagian riwayat ada yang menyebutnya “hanya” 20 ekor unta.

Mari kita hitung-hitung secara ekonomis. Pada masa itu harga 1 ekor unta berkisar antara 200 sampai 300 dinar, berarti 100×300 = 30.000 dinar. Kalau nilai 1 dinar setara dengan 110 Dollar AS, maka mas kawin yang diberikan oleh Rasulullah adalah senilai3.300.000 dolar AS atau setara dengan Rp.33.000.000.000 (TIGA PULUH TIGA MILIAR RUPIAH!) Atau kalau memang hanya 20 ekor maka nilainya adalah 6,6 MILYAR RUPIAH!. Kalau Rasulullah tidak kaya mana bisa beliau membayar mas kawin sebanyak itu?

Dalam bukunya ini Prof. Laode Kamaluddin memaparkan bagaimana Rasulullah menjalankan praktek-praktek manajemen dengan prinsip-prinsip seperti kejujuran, setia dan profesional. Prof Laode juga menjelaskan bahwa Rasulullah telah menjalankan praktek etika dalam berbisnis dan manajemen jauh sebelum ilmu manajemen ditemukan.


Mari kita jadikan Rasulullah sebagai panutan serta suri tauladan dalam segala aspek kehidupan kita. Dalam 63 tahun hidup beliau, beliau pernah manjadi seorang kaya raya sehingga bisa menjadi panutan bagi orang kaya bagaimana membelanjakan hartanya. Beliau juga pernah miskin, sehingga bisa menjadi panutan bagaimana menyikapi kemiskinan. Beliau juga pernah menjadi seorang pemimpin, sehingga bisa menjadi acuan bagi seorang pemimpin bagaimana memimpin rakyatnya dengan adil. Dan dalam buku ini Prof. Laode memfokuskan pada kehidupan Rasulullah sebagai pebisnis ulung. Sehingga bisa jadi panutan bagi seorang pebisnis bagaimana etika berbisnis.

Pedoman Pelayanan Farmasi Untuk ODHA



Pada umumnya permasalahan dalam pengobatan HIV/AIDS sangat kompleks karena perjalanan penyakit yang cukup panjang dengan sistem imunitas yang semakin menurun
secara progresif dan munculnya beberapa jenis infeksi oportunistik secara bersamaan.
Permasalahan dalam pengobatan HIV/AIDS adalah Antiretroviral (ARV) hanya untuk menekan replikasi virus, kepatuhan pasien yang rendah dalam mengikuti program
pengobatan dan harga obat ARV yang mahal.
Berbicara tentang kepatuhan pasien dalam mengikuti program pengobatan sangat berkaitan erat dengan pelayanan kefarmasian yang baik. Agar pelayanan kefarmasian untuk Orang dengan HIV/AIDS (ODHA) dapat berjalan dengan baik, tentunya Apoteker harus mengenal terlebih dahulu HIV/AIDS, Program Nasional HIV/AIDS dan Kebijakan Penggunaan ARV, Patogenesis, Terapi ARV untuk Orang Dengan HIV/AIDS, pengelolaan ARV di rumah sakit dan lain sebagainya. Berkaitan dengan hal tersebut, dipandang perlu adanya pedoman bagi para apoteker. Diharapkan pedoman pelayanan kefarmasian untuk Orang dengan HIV/AIDS (ODHA) ini dapat membantu meningkatkan pengetahuan dan wawasan apoteker dalam melaksanakan pelayanan kefarmasian untuk pasien ODHA.

Prescription Drug




Download now ebook CLINICIAN’S HANDBOOK OF PRESCRIPTION DRUGS
Medicine is an ever-changing science. As new research and clinical experience broaden our knowledge, changes in treatment and drug therapy are required. The authors and the publisher of this work have checked with sources believed to be reliable in their efforts to provide information that is complete and generally in accord with the standards accepted at the time of
publication. However, in view of the possibility of human error or changes in medical sciences, neither the authors nor the publisher nor any other party who has been involved in the preparation or publication of this work warrants that the information contained herein is in every respect accurate or complete, and they disclaim all responsibility for any errors or omissions or for the results obtained from use of the information contained in this work. Readers are encouraged to confirm the information contained herein with other sources. For example and in particular, readers are advised to check the product information sheet included in the package of each drug they plan to administer to be certain that the information contained in this work is accurate and that changes have not been made in the recommended dose or in the contraindications for administration. This recommendation is of particular importance in connection with new or infrequently used drugs.

Home Pharmacy Care (Pelayanan kefarmasian Di Rumah)


download

Dalam rangka mewujudkan pelayanan kesehatan yang optimal, diperlukan suatu pelayanan yang bersifat terpadu, komprehensif dan profesional dari para profesi kesehatan termasuk apoteker sebagai bagian profesi kesehatan yang khusus memberikan pelayanan kefarmasian. Pelayanan Kefarmasian merupakan bagian integral dari sistem pelayanan kesehatan yang tidak terpisahkan. Salah satu aspek pelayanan kefarmasian adalah Pelayanan Kefarmasian di Rumah ( home pharmacy care ) yang merupakan pelayanan kepada pasien yang dilakukan di rumah khususnya untuk kelompok pasien lanjut usia, pasien yang menggunakan obat dalam jangka waktu lama seperti penggunaan obat-obat kardiovascular, diabetes, TB, asma dan penyakit kronis lainnya. Pelayanan Kefarmasian di Rumah diharapkan dapat memberikan pemahaman tentang pengobatan dan memastikan bahwa pasien yang telah berada di rumah dapat menggunakan obat dengan benar.
Mengingat pentingnya fungsi dari Pelayanan Kefarmasian di Rumah, maka diperlukan suatu acuan atau pedoman. Terima kasih.

Pelayanan Kefarmasian di Puskesmas


download

Pelayanan kefarmasian merupakan bagian integral dari sistem pelayanan kesehatan termasuk didalamnya pelayanan kefarmasian di Puskesmas yang merupakan unit pelaksana teknis dinas kesehatan kabupaten/kota. Dengan makin kompleksnya upaya pelayanan kesehatan khususnya masalah terapi obat, telah menuntut kita untuk memberikan perhatian dan orientasi pelayanan farmasi kepada pasien.
Berbagai upaya telah dilakukan untuk meningkatkan mutu pelayanan kefarmasian, namun kenyataannya dari monitoring yang pernah dilakukan menunjukkan bahwa pelayanan kefarmasian di Puskesmas belum diterapkan secara optimal. Beberapa faktor yang menjadi penyebabnya antara lain karena belum adanya standar, kemampuan tenaga farmasi serta pihak-pihak yang terkait tentang pelayanan kefarmasian maupun kebijakan manajemen dari Puskesmas itu sendiri serta pelaksana pelayanan kefarmasian di Puskesmas belum semuanya apoteker atau asisten apoteker sehingga memberikan dampak terhadap mutu
pelayanan kesehatan. Oleh sebab itu tenaga farmasi dituntut untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan perilaku agar dapat langsung berinteraksi dengan pasien.
Buku ini sangat penting dalam rangka penerapan paradigma pelayanan kefarmasian, yaitu konsep Pharmaceutical Care yang sesuai dengan tuntutan masyarakat yang mengharuskan adanya perubahan pelayanan dari drug oriented ke patient orinted, namun dalam pelaksanaan pedoman ini juga sangat perlu didukung oleh komitmen dan kemauan tenaga farmasi dalam menjalankannya.

buat rekan sejawat jadikan ebook ini sebagai penuntun kita dalam melaksanakan pelayanan kefarmasian di Puskesmas

Beri Bayi Antibiotik Bisa Tingkatkan Risiko Asma


Connecticut, Antibiotik adalah obat untuk memerangi penyakit akibat bakteri. Tapi sebaiknya jangan beri antibiotik pada bayi yang berusia kurang dari 6 bulan, karena bisa meningkatkan risiko bayi terserang asma.

Hal tersebut berdasarkan hasil studi yang dilakukan oleh tim ahli dari Yale University. Hasil studi tersebut adalah yang terbaru dalam serangkaian studi yang menghubungkan obat yang biasa digunakan dengan asma pada anak.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa pemberian antibiotik pada bayi berusia kurang dari enam bulan dapat meningkatkan risiko bayi terserang asma hingga lebih dari dua pertiga persen lebih tinggi.

Tim peneliti dari Yale mempelajari 1.400 anak untuk melihat apakah penggunaan antibiotik dini menyebabkan kasus asma lebih tinggi pada anak usia enam tahun.

Partisipan tersebut diketahui diberikan resep obat antibiotik pada saat bayi sebelum usia enam bulan karena infeksi selain yang terkait dengan masalah dada.

Partisipan juga termasuk anak-anak yang lahir dari orangtua yang tidak memiliki riwayat keluarga mengidap asma.

Hasilnya yang akan diterbitkan pada American Journal of Epidemiology, menunjukkan adanya peningkatan risiko asma, bahkan jika anak-anak tidak pernah mengalami infeksi dada dan tidak berasal dari keluarga penderita asma.

Peneliti mengatakan obat antibiotik yang diberikan terlalu dini dapat mengganggu keseimbangan mikroba pelindung dalam usus bayi yang membantu untuk menangkal penyakit pada tahap awal kehidupan.

"Paparan mikroba dini, terutama di saluran usus, tampaknya diperlukan untuk sistem kekebalan tubuh yang matang dan seimbang pada masa kanak-kanak. Penggunaan antibiotik, khususnya antibiotik spektrum luas, dapat mengubah flora mikroba dalam usus, sehingga menyebabkan ketidakseimbangan dalam sistem kekebalan tubuh dan respon alergi menjadi rendah," jelas Dr Kari Risnes, pemimpin studi, dilansir Telegraph, Sabtu (8/1/2011).

Menurut Dr Risnes, temuan ini dapat mendorong dokter untuk menghindari penggunaan antibiotik yang tidak perlu, terutama pada anak-anak yang berisiko rendah.

Sumber: Merry Wahyuningsih - detikHealth

´